Tumbuh-tumbuhan juga dapat bersaing antar
sesamanya secara interaksi biokimiawi, yaitu salah satu tumbuhan mengeluarkan
senyawa beracun ke lingkungan sekitarnya dan dapat mengakibatkan gangguan
pertumbuhan tumbuhan yang ada di dekatnya. Interaksi biokimiawi antara gulma
dan pertanamanan antara lain menyebabkan gangguan perkecambahan biji, kecambah
jadi abnormal, pertumbuhan memanjang akar terhambat, perubahan susunan sel-sel
akar dan lain sebagainya. Tumbuhan yang bersifat sebagai alelopati mempunyai
kemampuan bersaing yang lebih hebat sehingga pertumbuhan tanaman pokok lebih
terhambat, dan hasilnya semakin menurun. Namun kuantitas dan kualitas senyawa
alelopati yang dikeluarkan oleh tumbuhan dapat dipengaruhi oleh kerapatan tumbuhan
alelopati, macam tumbuhan alelopati, saat kemunculan saat kemunculan tumbuhan
alelopati, lama keberadaan tumbuhan alelopati, habitus tumbuhan alelopati,
kecepatan tumbuh tumbuhan alelopati, dan jalur fotosintesis tumbuhan alelopati
(C3 atau C4) (Mcilroy, 1976).
Persaingan
interspesifik terjadi diantara dua atau lebih individu organisme yang berlainan
jenis. Spesies yang berhasil dalam persaingan bergantung pada kemampuan
pertumbuhan dan reproduksinya. Perbedaan waktu perkecambahan biji dan
pembentukannya anakan pohon juga mempengaruhi persaingan. Perbedaan kisaran
toleransi dan syarat-syarat ekologi yang dimiliki suatu spesies organisme juga
akan mempengaruhu kemampuan untuk bersaing. Interaksi ini dapat merupakan
interaksi komensalisme yaitu salah satu organisme beruntung dan yang lain tidak
berpengaruh sedangkan hubungan yang lain seperti amensalisme merupakan hubungan
antara dua organisme dengan salah satu pihak dirugikan dan pihak lain mungkin
tidak dirugikan. Pada umumnya interaksi saling merugikan karena terdapat
kerugian yang dipengaruhi oleh bahan-bahan kimia yang dikenal sebagai alelopati
(Indriyanto, 2006).
Proses pembentukkan senyawa alelopati
sungguh merupakan proses interaksi antarspesies atau antarpopulasi yang
menunjukkan suatu kemampuan suatu organisme untuk mempertahankan kelangsungan
hidup dengan berkompetisi dengan organisme lainnya, baik dalam hal makanan,
habitat, atau dalam hal lainnya. Beberapa alelopati
menghambat pembelahan sel-sel akar tumbuhan. Beberapa
alelopati dapat menghambat pertumbuhan yaitu dengan mempengaruhi pembesaran sel
tumbuhan. Beberapa senyawa alelopati
memberikan pengaruh menghambat respirasi akar. Senyawa
alelopati memberikan pengaruh menghambat sintesis protein. Beberapa senyawa
alelopati dapat menurunkan daya permeabilitas membran pada sel tumbuhan.Senyawa
alelopati dapat menghambat aktivitas enzim (Brewer, 1990).
Alelopati
merupakan interaksi antarpopulasi, bila populasi yang satu menghasilkan zat
yang dapat menghalangi tumbuhnya populasi lain. Pada mikroorganisme istilah
alelopati dikenal sebagai anabiosa atau antibiotisme.
Fenomena alelopati mencakup semua tipe interaksi kimia antartumbuhan,
antarmikroorganisme, atau antara tumbuhan dan mikroorganisme interaksi tersebut
meliputi penghambatan dan pemacuan secara langsung atau tidak langsung suatu
senyawa kimia yang dibentuk oleh suatu organisme (tumbuhan, hewan atau mikrobia)
terhadap pertumbuhan dan perkembangan organisme lain. Senyawa kimia yang
berperan dalam mekanisme itu disebut alelokimia. Pengaruh alelokimia bersifat
selektif, yaitu berpengaruh terhadap jenis organisme tertentu namun tidak
terhadap organisme lain. Contoh jenis tumbuhan lainnya yang diduga menghasikan
zat allelopati, yaitu genus Eucalyptus, Acacia, Pinus, Eucelia, Hordeum,
Grevillea, Camelina, adenostena, erenophylla, Agropyron (Indriyanto, 2006).
Alelopati merupakan contoh dari tipe
interaksi amensalisme yang merupakan persaingan dalam bentuk yang lemah. Dalam
hubungan ini antara individu yang satu dirugikan dan individu yang lain tidak
dirugikan atau bersifat netral. Alelopati merupakan pengaruh yang merugikan
baik langsung mupun tidak langsung dari suatu tumbuhan ke tumbuhan yang lainnya
melalui produksi senyawa kimia. Dalam hal ini bahan kimia dapat dikategorikan
Autotoxic (bahan penghambat) terhadap anakan dan Antitoxic (bahan penghambat)
terhadap individu lainnya. Cara tanaman melepaskan bahan kimia (bahan
alelopati) antara lain melalui pencucian daun atau batang oleh air hujan, bahan
tanman yang jatuh sebagai serasah yang menjadi humus dalam tanah, gas yang
menguap dari permukaan tanah, eksudat akar (Onrizal dan Kusmana, 2005).
Alelokimia pada tumbuhan dibentuk di
berbagai organ, mungkin di akar, batang, daun, bunga dan atau biji. Organ
pembentuk dan jenis alelokimia bersifat spesifik pada setiap spesies. Pada
umumnya alelokimia merupakan metabolit sekunder yang dikelompokkan menjadi 14
golongan, yaitu asam organik larut air, lakton, asam lemak rantai panjang,
quinon, terpenoid, flavonoid, tanin, asam sinamat dan derivatnya, asam benzoat
dan derivatnya, kumarin, fenol dan asam fenolat, asam amino nonprotein, sulfida
serta nukleosida. Pelepasan alelokimia pada umumnya terjadi pada stadium
perkembangan tertentu, dan kadarnya dipengaruhi oleh stres biotik maupun
abiotik (Brewer, 1990).
Tidak semua gulma mengeluarkan senyawa
beracun. Spesies gulma yang diketahui mengeluarkan senyawa racun adalah
alang-alang (Imperata cylinarica), grinting (Cynodon dactylon),
teki (Cyperus rotundus), Agropyron intermedium, Salvia lenocophyela
dan lain-lain. Apabila gulma
mengeluarkan senyawa beracun maka nilai persaingan totalnya dirumuskan sebagai
berikut :
TCV
= CVN + CVW + CVL + AV
dimana TCV =
total competition value, CVN = competition value of nutrient, CVW = competition
value of water, CVL = competition value of light, dan AV = allelopathic value.
Nilai persaingan total yang disebabkan oleh gulma yang mengeluarkan alelopat
terhadap tanaman pokok merupakan penggabungan dari nilai persaingan untuk hara
+ nilai persaingan untuk air + nilai persaingan untuk cahaya + nilai alelopati
(Resosoedarmo, 1986).
Tumbuhan yang masih
hidup dapat mengeluarkan senyawa alelopati lewat organ yang berada di atas
tanah maupun yang di bawah tanah. Demikian juga tumbuhan yang sudah matipun
dapat melepaskan senyawa alelopati lewat organ yang berada di atas tanah maupun
yang di bawah tanah. Alang-alang (Imperata
cyndrica) dan teki (Cyperus rotundus) yang masih hidup mengeluarkan
senyawa alelopati lewat organ di bawah tanah, jika sudah mati baik organ
yang berada di atas tanah maupun yang di bawah tanah sama-sama dapat melepaskan
senyawa alelopati. Tumbuhan ini
banyak terdapat di lahan pertanian di daerah tropis dan subtropis. Alang-alang
dapat menghasilkan hormon alelopati, yaitu zat yang dapat mematikan tumbuhan
lain. Akibat pada suatu lahan dapat terjadi monokultur, dan yang ada hanya
alang-alang.Dengan mengacu pada kemampuan alelopati untuk mematikan tumbuhan
lain (Dove dan Martopo, 1990).
Senyawa-senyawa
kimia yang mempunyai potensi alelopati dapat ditemukan di semua jaringan
tumbuhan termasuk daun, batang, akar, rizoma, umbi, bunga, buah, dan biji. Senyawa-senyawa
alelopati dapat dilepaskan dari jaringan-jaringan tumbuhan dalam berbagai cara
termasuk melalui:
1.
Penguapan senyawa alelopati, senyawa kimianya termasuk ke dalam golongan
terpenoid. Senyawa ini dapat diserap oleh tumbuhan di sekitarnya dalam bentuk
uap, bentuk embun, dan dapat pula masuk ke dalam tanah yang akan diserap akar.
2.
Eksudat akar yaitu banyak terdapat senyawa kimia yang dapat dilepaskan
oleh akar tumbuhan, yang kebanyakan berasal dari asam-asam benzoat, sinamat,
dan fenolat.
3.
Pencucian yaitu sejumlah senyawa kimia dapat tercuci dari bagian-bagian
tumbuhan yang berada di atas permukaan tanah oleh air hujan atau tetesan embun.
4. Pembusukan organ
tumbuhan setelah tumbuhan atau bagian-bagian organnya mati, senyawa-senyawa
kimia yang mudah larut dapat tercuci dengan cepat. Sel-sel pada bagian-bagian
organ yang mati akan kehilangan permeabilitas Persaingan antar jenis pada tumbuhan mungkin
dapat dimanifestasi oleh agresi kimia atau disebut alelopati yang berarti bahwa satu jenis menghasilkan zat
kimia yang menghambat aatau membunuh tumbuhan yang disainginya. Interaksi
alelopati bahkan terjadi dalam satu jenis misal pohon Grivillea di hujan
hutan Australia. Tampaknya akar-akar
mengeluarkan suatu zat yang larut dalam air dan menghambat perkembangan
kecambah jenis tersebut tumbuh disekitarnya. Pengaruh alelopati terhadap
pertumbuhan tumbuhan antara lain perpanjangan atau perbanyakan sel kan
terhambat, penyerapan hara meniral akan berkurang , laju fotosintesis dan
respirasi akan terganggu, perlambatan perkecambahan , laju pertumbuhan
terhambat, gangguan sistem perakaran, klorosis, layu, dan ada yang mati
(Onrizal dan Kusmana, 2005).
Penelitian
pengaruh ekstrak daun Pinus merkusii, terhadap perkecambahan dan pertumbuhan
vegetatif Glvcine, max telah dilakukan di laboratorium ekofisiologi dan rumah
kaca Jurusan Biologi Institut Teknologi Bandung, pada bulan Oktober 1989 sampai
Februari 1990. Kandungan bioaktif daun Pinus merkusii, diekstrak dengan pelarut
air, etanol dan aseton, untuk diperlakukan kepada biji Glycine max, yang sedang
berkecambah dan tanaman Glycine max yang sedang dalam fase pertumbuhan
vegetatif. Ekstrak air,
ekstrak etanol dan ekstrak aseton dibuat menjadi konsentrasi 0; 250; 500; 750
dan 1000 ppm. Percobaan dilakukan dengan rancangan acak lengkap faktorial
dengan tiga kali ulangan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa ekstrak daun Pinus
merkusii tidak mempengaruhi persentase perkecambahan dan faktor-faktor
pertumbuhan Glvcine max. Satu-satunya parameter yang terpengaruh adalah panjang
radikula kecambah Glycine max (Odum, 1971).
Proses
pembentukkan senyawa alelopati sungguh merupakan proses interaksi antarspesies
atau antarpopulasi yang menunjukkan suatu kemampuan suatu organisme untuk
mempertahankan kelangsungan hidup dengan berkompetisi dengan organisme lainnya,
baik dalam hal makanan, habitat, atau dalam hal lainnya. Ada beberapa tempat
bereaksinya alelopati dalam tubuh tumbuhan karena masuknya substansi alelopat
padanya. Tempat-tempat tersebut dalam tumbuhan menjadi tempat persinggahan zat
kimiawi yang masuk ke dalamnya dan tempat itulah terjadi substansi kimiawi
tersebut.Tempat tersebut yang sering atau bahkan selalu dihubungkan dengan
jenis proses kimiawi sehingga pada masalah nama tempat tersebut selalu
dihubungkan dengan jenis prosesnya. Misalnya pengaruh alelopati pada
pengambilan nutrisi, hambatan pada pembelahan sel, dan pertumbuhan hambatan
pada fotosintesis dan respirasi pengaruh pada sintesa protein dan aktivitas
enzim, hambatan pembukaan stomata dan lain lain (Moenandir, 1997).
Pada prinsipnya
allelopati adalah :
- Pengaruh yang bisa merusak, menghambat, merugikan dan dalam kondisi tertentu kemungkinan menguntungkan.
- Pengaruh ini terjadi pada perkecambahan, pertumbuhan maupun metabolism tanaman.
- Pengaruh ini disebabkan karena adanya senyawa kimia yang dilepaskan oleh suatu tanaman ke tanaman lainnya.
Pengaruhnya
terhadap tanaman dapat berupa hambatan dan gangguan allelopati dapat terjadi
pada perbandingan dan perpanjangan sel, aktivitas giberalin, dan auksin (IAA),
Penyerapan hara mineral, laju fotosintesis, respirasi, pembukaan stomata,
sistem protein, dan aktivitas enzim tanaman. Faktor-faktor yang mempengaruhi
besarnya daya hambat senyawa kimia penyebab allelopati dari tanaman, antara
lain: macam tanaman yang menghasilkan, macam tanaman yang dipengaruhi, keadaan
pada waktu sisa tanaman mengalami perombakan, dan sebagainya (Onrizal dan
Kusmana, 2005).
Telah banyak bukti yang
menunjukkan bahwa senyawa alelopati dapat menghambat pertumbuhan tanaman.
Laporan yang paling awal diketahui mengenai hal ini ialah bahwa pada
tanah-tanah bekas ditumbuhi Agropyron repens, pertumbuhan gandum, oat,
alfalfa, dan barli sangat terhambat. Alang-alang menghambat pertumbuhan tanaman
jagung dan ini telah dibuktikan dengan menggunakan percobaan pot-pot bertingkat
di rumah kaca di Bogor. alang-alang merupakan senyawa beracun yang dapat
mempengaruhi pertumbuhan jagung. Tumbuhan yang telah mati dan sisa-sisa
tumbuhan yang dibenamkan ke dalam tanah
juga dapat menghambat pertumbuhan jagung dimana semakin tinggi konsentrasi
ekstrak organ tubuh alang-alang, semakin besar pengaruh negatifnya (Kartawinata dan Danimihardja, 2009)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar